Informasi Peluang Bisnis Mudah

Desainer Perhiasan Dari Indonesia Eksis Bertarung di Pasar Dunia

Share on :
Desainer Perhiasan Dari Indonesia Eksis Bertarung di Pasar Dunia

BPEN memboyong 16 perusahaan Indonesia untuk berpartisipasi dalam pameran tersebut. Dari information yang terdapat di net site JA Jewelry Summer Show, peserta dari Indonesia yang menempati paviliun Indonesia di antaranya adalah, Putera Silver, Natalia Liu, CV Megrania Putra Nusantara, PT Brianwood Asia, Puspa Mega Silver, Mutumanikam Nusantara, Patra's Collection, dan sebagainya. Panitia bahkan menyiapkan penyambutan peserta dari Indonesia pada hari kedua pameran.

Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) untuk pertama kalinya mengikuti pameran perhiasan di ajang JA Jewelry Summer Show 2008 New York, Amerika Serikat, 27-30 Juli 2008. Pameran tersebut merupakan pameran perhiasan terbesar di Amerika Serikat (AS) yang sudah dimulai sejak lebih dari 100 tahun lalu.

Partisipasi (Indonesia) dalam pameran ini merupakan salah satu peluang terbaik bagi perusahaan perhiasan Indonesia untuk menembus pasar Amerika Serikat yang merupakan importir terbesar untuk produk perhiasan,ujar Bachrul Chairi, Kepala BPEN. Pameran ini juga sebagai sarana mengetahui tren produk perhiasan mengingat perkembangan produk ini dinamis, ia melanjutkan.

Menurut information dari BPEN, impor perhiasan dunia mencapai nilai US$ 155,8 miliar. Jika dihitung dalam kurs rupiah Rp 9000/US$ saja angka itu berarti Rp one.400 triliun. Bandingkan dengan ekspor perhiasan Indonesia yang baru mencapai US$ 897 juta atau sekitar Rp 8 triliun. Pantas jika Indonesia berada di urutan 152 negara pengekspor perhiasan dunia. Ekspor perhiasan Indonesia ke AS sendiri pada tahun 2007 baru mencapai nilai US$ 66 juta atau sekitar Rp 594 miliar. AS merupakan tujuan ekspor perhiasan utama Indonesia.

Negara tujuan ekspor lainnya adalah Singapura, Hongkong, Uni Emirat Arab, Malaysia, Jepang, Swiss, Jerman, dan sebagainya. Di tatanan internasional, negara-negara utama pengimpor perhiasan setelah AS adalah Hongkong, Belgia, Inggris, Jerman, Swiss, Italia, Australia, Kanada, dan China. Karena itu, menurut Bachrul, peserta dari Indonesia yang diboyong BPEN ke sana bisa memanfaatkan pameran tersebut sehingga memperoleh transaksi besar. Selain itu, jika terjadi peningkatan ekspor perhiasan, sudah tentu akan membuka lapangan kerja baru baik di bidang perancangan desain, pengerjaan dan industri fashion yang langsung berhubungan dengan industri perhiasan, maupun pada industri pendukungnya seperti pariwisata.

Dari peserta yang dibawah BPEN, kebanyakan produsen perhiasan itu bergerak di bidang yang jadi unggulan Indonesia. Putra Silver, misalnya, merupakan eksporter kecil dari Bali yang memproduksi aneka produk perak. Perusahaan ini didirikan tahun 1981 dan sudah mengekspor produknya ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Jerman, dan Australia. Lalu Puspa Mega Silver yang memproduksi aneka produk perak dari mulai cincin, giwang, gelang dan sebagainya.

Ada pula CV Megrania Putra Nusantara. Perusahaan asal Semarang ini didirikan tahun 1990 oleh Mieke Sahala Hutabarat. Mieke merupakan seorang pecinta seni yang unik. Sejak sebelum menikah ia sering melancong ke luar negeri dan membeli barang-barang unik. ''Saya senang sovenir yang nyleneh, nyeni, dan antik,'' ujarnya seperti ditulis Republika, beberapa waktu lalu. Barang-barang antiknya itu dikumpulkan di rumahnya. Tahun 1990 ia mulai tertarik pada perhiasan logam. Karena ia termasuk pencinta karya klasik seperti batik, Wieke mencoba membuat ukiran ala batik di berbagai perhiasan logam (perak). Itulah mengapa ia senang menyebut karyanya sebagai batik logam, yang merupakan perpaduan antara batik, sulam, pahat, dan patung.

Pada awalnya ia hanya membuatnya untuk dipakainya sendiri. Namun lama-kelamaan banyak juga rekan-rekannya yang ingin membeli produknya itu. Sejak itulah ia kemudian memproduksi sendiri untuk dijual. Dari tangan Meike kemudian lahir aksesoris seperti anting, kalung, liontin, cincin, dan bros. Semuanya berupa lukisan batik di atas logam. Yang menarik, nama-nama produknya termasuk aneh untuk kategori perhiasan. Tengok saja misalnya nama-nama ini seperti Candi Kawung, Kanthil Sumunar, Jingglang Samarat Seser, Cecek Truntum, Payung Rinonce, Payung Sinulam, Payung 2003, Samudera Muncrat, Sudhetan Borobodur, Kyai Kluwung Samodra, atau Kargo Kanthil Kencana. Salah satu hasil karyanya bernama Pita pada tahun 2006 meraih penghargaan dari Indonesia Good Design Selection.

''Saya ini jengkel mengapa banyak plagiator. Padahal sumber inspirasi itu banyak sekali. Kebudayaan Jawa saja memberikan inspirasi yang luar biasa banyak,'' katanya. ''Seni kriya itu tak akan kehabisan sumber inspirasi,'' ia melanjutkan.

Ada pula organisasi nirlaba yang bergerak di bidang perhiasan, yaitu Mutumanikam Nusantara. Organisasi ini digagas oleh Ani Bambang Yudhoyono yang menghimpun perajin dan pengusaha perhiasan skala kecil dan menengah agar dapat berkembang dan melebarkan sayap ke luar negeri. Keikutsertaan Mutumanikam di JA Jewelry Summer Show, bukan untuk pertama kalinya pameran di AS. Tahun lalu, misalnya, organisasi ini mengadakan Pameran Perhiasan “Mutumanikam Nusantara: The Jewelry of the Indonesian Archipelago; an Exhibition of Indonesian Jewelry and Gemstones, di Konsulat Jenderal RI di New York. Organisasi ini tak hanya pernah berpameran di AS. Mutumanikam pernah juga mengadakan pameran di London, Inggris dan Osaka, Jepang. Pada kedua pameran itu pengunjungnya cukup antusias.

Mutumanikam sendiri memproduksi aneka perhiasan dari logam seperti emas, berlian, perak, dan mutiara. Bentuk perhiasannya beraneka ragam mulai dari cincin, gelang, kalung, anting, dan sebagainya. Menurut pengelolanya, Mutumanikam mencoba mencari produk-produk perhiasan dengan ciri khas Indonesia. Konsep itu kemudian dikembangkan agar memiliki mutu yang tinggi an diterima pasar internasional.

Pameran memang ujung tombak menembus pasar dunia. Keikutsertaan Indonesia di JA Jewelry Summer Show 2008 bisa jadi ujung tombak untuk makin melebarkan pasar perhiasan Indonesia, khususnya, di AS. Pameran ini sudah menjadi agenda pemburu perhiasan dunia karena banyaknya peserta dan pengunjung dari seluruh dunia. Pada penyelenggaraan tahun lalu, pameran ini diikuti oleh 1300-an peserta dari seluruh dunia. Jumlah buyer yang mengunjunginya mencapai 13.000-an orang. Menurut data BPEN, pelaku industri perhiasan yang hadir di situ adalah retailer independen, agen perhiasan dunia, jaringan department store, publikasi (media) online, televisi, dan sebagainya. Tentu saja Indonesia berharap banyak dari keikutsertaan yang pertama kali ini. Total ada 13 negara di luar AS yang mengikuti pameran itu.

Indonesia bukan satu-satunya negara yang pertama kali ikut serta di pameran tersebut. Berdasarkan press release panitia, selain Indoensia, Korea Selatan dan Vietnam juga pertama kali ikut. “Indonesia akan mengadakan acara Pesta Selamat Datang yang akan dilaksanakan oleh Duta Besar Indonesia di AS Sudjadnan Parnohadiningrat,” tulisnya.

Menurut Direktur Indonesia Trade Promotion Center Los Angeles Dody Edward, pada pembukaan itu Indonesia memperkenalkan aneka produk perhiasan Indonesia dan sekaligus budaya Indonesia. “Ini pameran yang tidak boleh kami lewatkan,” kata Dody.

Sebenarnya secara individual (bukan dikooordinir lembaga seperti BPEN) sudah ada peserta dari Indonesia ikut JA Jewelry Summer Show yang diselenggarakan di Javitz Convention Center New York itu tahun lalu yaitu Reny Feby Jewelry (RFJ) dari Jakarta. Reny bukan sekali ini saja ikut pameran di luar negeri. Sudah beberapa kali ia ikut pameran perhiasan seperti di Eropa dan Asia. Ia kini sudah memiliki distributor di berbagai negara di dunia termasuk yang di AS.

Produk RFJ di pameran tahun 2007 itu cukup mendapat perhatian dari para pengunjung. Keunikannya terdapat pada bahan baku yang digunakannya. Reny membuat anting dan gelang dari bahan baku kayu ebony. Sekarang berbagai aneka perhiasan ia buat termasuk berbahan logam emas dan perak. Beberapa hasil desainnya dipakai perempuan ternama di negeri ini seperti Ani Bambang Yudhoyono (isteri Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono), artis Vina Panduwinata, dan sebagainya. Reny termasuk salah satu desainer perhiasan yang berhasil dari Indonesia yang dikenal di mancanegera, padahal ia memulai usahanya baru tahun 2000. Ini membuktikan desainer Indonesia pun bisa bersaing di pasar dunia dengan meniti kariernya dari pameran-pameran internasional

0 komentar on Desainer Perhiasan Dari Indonesia Eksis Bertarung di Pasar Dunia :

Post a Comment and Don't Spam!

˘